Right Button

test bannerSELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI "HARIAN BERITA MINANGKABAU SUMBAR NEWS"🇧🇪PEMBACA SETIA KAMI"HADIR UNTUK ANDA MASYARAKAT SUMBAR DENGAN BERITA TERBARU TERKINI PERISTIWA POLITIK EKONOMI SOSIAL ADAT BUDAYA MINANG SUMBAR DAN BERITA NASIONAL" KRITIS-OPTIMIS-TERDEPAN, PASANG IKLAN USAHA DAN UCAPAN SELAMAT " ANDA DISINI👉Alamat Kantor Redaksi JL.Kel.Seberang Palinggam No.10A Kecamatan Padang Selatan Kota Padang-Sumbar HUB:081267663887

Karhutla Kalimantan,Lonjakkan Titik Api Hingga Kemarahan Warga yang "Tercekik"Kabut Asap Seumur hidup

 


(MKSN) NASIONAL--Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di semua provinsi di Kalimantan mengalami lonjakan jumlah titik api yang mengakibatkan pulau itu 'dikepung' kabut asap di beberapa wilayah. Sementara tim pemadam di lapangan masih kesulitan memadamkan api yang kerap muncul kembali setelah dipadamkan.


Bagaimana warga Kalimantan menghadapi kabut asap di tengah fenomena El-Nino Godzilla?


Di media sosial, Banjarbaru, Kalimantan Selatan menjadi sorotan, lantaran seorang ibu, Riri Jayanti membagikan foto kedua anaknya yang akan berangkat sekolah, tetapi dikelilingi kabut asap pekat.


Tinggal di dekat rumah Riri, Abdul Kholik, rugi puluhan juta rupiah, akibat api membakar peternakan ayamnya. Istrinya yang sedang hamil kini mengalami gangguan pernapasan karena terpapar udara kotor hasil karhutla.


Masih di Banjarbaru, seorang pemuda yang sedang menyelesaikan skripsinya, Dony Restu, seumur hidupnya selalu berhadapan dengan kabut asap yang dia katakan beraroma 'apek' seperti asap ketika orang bakar sampah.


Kabut asap juga masih menyergap Pontianak, Kalimantan Barat hingga Palangka Raya, Kalimantan Tengah.


Sementara di lapangan, petugas masih kesulitan memadamkan api terutama di atas lahan gambut, di tengah proses melelahkan bertahun-tahun itu, mereka bilang "kami tidak punya kuasa untuk mengeluh".


Pada 19 Agustus, Riri Jayanti (38 tahun) seorang ibu rumah tangga di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengunggah foto dan video kedua anaknya yang akan berangkat sekolah seolah ditelan kabut asap.


Kedua anak Riri kala itu masih harus ke sekolah sambil mengenakan masker. Dia bilang kepada jurnalis BBC News Indonesia, Nicky Aulia Widadio, "belum ada kebijakan dari sekolah maupun dinas setempat untuk libur sekolah atau masuk lebih siang".


Sehari setelahnya, baru ada kebijakan masuk lebih siang pada pukul 09.00 WITA, jika kabut asap tebal pada pagi hari.


Riri mengaku, di wilayah tempat tinggalnya, hampir tidak pernah turun hujan dalam tiga bulan terakhir.


Pernah hujan sesekali, katanya sih hujan buatan, durasi sekitar satu sampai dua jam saja, tapi sebulan belakangan tidak ada hujan sama sekali," tambah Riri.


Meski sudah pakai masker dalam kegiatan sehari-hari, Riri sekeluarga mengalami batuk, akibat kotornya udara yang ia hirup.


Kalau batuk-batuk itu anak-anak sudah hampir merata ya. Di lingkungan kami, ada dua bayi yang sudah kena ISPA, lansia juga ada yang terdampak," katanya.


Riri juga merekam kabut asap dampak kebakaran hutan di Kalimantan selatan. Dari video itu, nampak jalanan di lingkungan permukiman diselimuti kabut asap dengan jarak pandang yang terbatas.


Setelah itu, dia tidak sempat merekam lagi karena panik.


"[Api] sudah saking dekatnya dengan rumah warga, kami fokus siramkan air ke titik api dan sekitarnya, supaya tidak menjalar ke rumah dan kandang kambing. Alhamdulillah, ada bantuan pemadam dari Kodim (Komando Distrik Militer), kepolisian, dan Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan pertolongan).


Meski setiap tahun Riri dan keluarganya terdampak kabut asap setiap musim kemarau karena ada kebakaran lahan, dia mengaku "api paling dekat permukiman ya [baru] tahun [2026] ini".


"Sebelumnya, api tidak pernah sedekat ini, kami hanya kebagian asap tebalnya saja," tambah Riri.


Pada 2026, Riri mengaku tidak pernah mendengar informasi peringatan dini tentang kebakaran hutan dan lahan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), "entah saya yang ketinggalan info atau bagaimana, tetapi kalau dari warga dan tim pemadam kompleks [perumahan] setiap kemarau sudah selalu siaga".


Rumahnya berdekatan dengan lahan gambut yang saban tahun terbakar. Riri bilang, setiap kemarau kesiagaan itu sudah otomatis hadir di lingkungan tempat tinggalnya.


Di ranah pendidikan, kabut asap membuat pemerintah menyesuaikan jam masuk sekolah. Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarbaru membuat surat edaran kepada satuan pendidikan tingkat kota seperti PAUD-TK, SD, dan SMP agar waktu pembelajaran diundur.


Di lokasi lain, Kota Banjarbaru, Dony Restu yang rumahnya berjarak sekitar 10 km dari titik api terdekat, sudah mencium aroma asap yang masuk ke rumahnya dalam beberapa hari terakhir.


"Aromanya seperti sampah terbakar, asapnya pekat sekali dan berasa apek banget," ujar Dony yang selama 22 tahun dalam hidupnya terpapar kabut asap setiap tahun.


Kabut asap mulai pekat malam hingga pagi, itu pula yang membuat Dony bersin lebih sering setiap pagi karena memiliki sinusitis.


Setidaknya, dirinya sudah menyadari kabut asap yang terjadi setiap tahun itu sejak usia delapan tahun. "Itu pun dari tontonan Ipin Upin, yang bilang kalau kabut asap itu bahaya," tambah Dony.


Disadari atau tidak, dirinya seakan-akan sudah tercekik kabut asap seumur hidup.


Namun, tahun ini, ketika berkendara dengan mobil menuju kampusnya di Banjarmasin yang jaraknya sekitar 35km, Dony harus menghidupkan lampu kabut mobilnya agar pandangannya lebih jelas.


Itu dia lakukan untuk menghindari kecelakaan yang ia ketahui sempat terjadi.


Pada 19 Agustus, kabut asap membuat pandangan pengemudi terbatas, sehingga terjadi tabrakan antara truk pengangkut sepeda motor dengan truk fuso.


Ditambah, belakangan ini, daerah tempat tinggalnya mengalami pemadaman listrik bergilir dan kekurangan pasokan air bersih dari PDAM.


Korelasinya secara langsung dengan kebakaran hutan dan lahan, menurut Dony tidak ada. Namun, "krisis di daerah ini jadi makin berlapis".


Sering kali krisis yang ia hadapi setiap tahunnya itu memantik pertanyaan, "Mengapa pemerintah tidak berpikir supaya karhutla tidak terulang lagi, kenapa tidak preventif sejak awal, kenapa harus menunggu kebakaran dahulu, baru sibuk masing-masing?"


Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Banjarbaru, Harun Arrasyid, dalam beberapa hari terakhir terdapat 960 hektare lahan yang terbakar, termasuk adanya titik api baru terutama di Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Tengah dan Landasan Ulin Timur.


"Daerah itu merupakan lahan gambut, sehingga dari kebakaran itu, menimbulkan kepulan asap yang lumayan tebal, indeks polusi udara dalam dua hari ini berkisar antara 170 µg/m³ sampai dengan terparah 480 µg/m³, kategorinya memang sangat-sangat tidak layak atau tidak sehat," papar Harun dalam wawancaranya di Kompas TV.


Harun menjelaskan, daerah Banjarbaru didominasi lahan gambut dengan vegetasi seperti tanaman pakis yang mudah terbakar. Maka, jika terjadi kebakaran, tidak bisa dipadamkan seperti di lahan biasa. (**)

Posting Komentar

0 Komentar

Kami Hadir Untuk Pembaca Mediaonline Minangkabausumbarnews.com - Berita Lugas, Aktual dan Kritis Untuk Masyarakat Sumatera Barat