Right Button

test bannerSELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI "HARIAN BERITA MINANGKABAU SUMBAR NEWS"🇧🇪PEMBACA SETIA KAMI"HADIR UNTUK ANDA MASYARAKAT SUMBAR DENGAN BERITA TERBARU TERKINI PERISTIWA POLITIK EKONOMI SOSIAL ADAT BUDAYA MINANG SUMBAR DAN BERITA NASIONAL" KRITIS-OPTIMIS-TERDEPAN, PASANG IKLAN USAHA DAN UCAPAN SELAMAT " ANDA DISINI👉Alamat Kantor Redaksi JL.Kel.Seberang Palinggam No.10A Kecamatan Padang Selatan Kota Padang-Sumbar HUB:081267663887

Lulusan Sarjana 2026 Menunggu Nasib,Banyak Yang Menganggur Ibarat Solusi Diatas Tanpa Solusi

 

Lulusan Sarjana Banyak Yang Menganggur Job Fair (Bursa Kerja) Sulit di 2026,Ibarat Solusi Diatas Tanpa Solusi


(MKSN) Jakarta--Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,35 juta orang per November 2025. Angka tersebut menurun dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 7,46 juta orang.


Dari total 155,27 juta penduduk yang masuk kategori angkatan kerja, sebanyak 147,91 juta orang tercatat bekerja, sementara sisanya menganggur.


BPS mendefinisikan pengangguran sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja, baik karena sedang mencari pekerjaan, menyiapkan usaha, menunggu mulai bekerja, maupun yang telah putus asa mencari kerja.


Berdasarkan latar belakang pendidikan, tingkat pengangguran tertinggi berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 8,45 persen. Disusul lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 6,55 persen, serta lulusan D-IV, S1, S2, dan S3 sebesar 5,38 persen.


Sementara itu, lulusan DI/II/III mencatat angka pengangguran 4,22 persen, lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 3,76 persen, dan yang terendah berasal dari lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 2,29 persen.


Anggota DPR RI Mardani Ali Sera menilai angka tersebut sebagai sinyal serius bagi masa depan bangsa, terutama karena banyak penganggur berasal dari kelompok terdidik.


"Ini bencana. Lulusan D3 dan S1 nganggur bencana di atas bencana. Karena mereka sudah mendapat banyak pendidikan dan training tapi tidak digunakan," ujar Mardani lewat akun X miliknya, Dikutib hari Kamis, 12 Februari 2026.


Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar antara sistem pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Ia mendorong perubahan besar dalam tata kelola pendidikan dan kebijakan industri nasional.


"Mesti ada revolusi sistem pendidikan tinggi yg memastikan lulusannya mampu bersaing termasuk globally dan kemampuan negara menyiapkan industri serta mempercepat FDI. Karena jika tidak, ini bahan bakar negatif untuk perubahan sosial tdk terencana," tegasnya.


Mardani menekankan, tanpa perbaikan menyeluruh pada sistem pendidikan dan penciptaan lapangan kerja melalui penguatan industri serta percepatan investasi asing langsung (FDI), angka pengangguran terdidik berpotensi menjadi masalah sosial yang lebih besar di masa mendatang. (07)


Posting Komentar

0 Komentar

Kami Hadir Untuk Pembaca Mediaonline Minangkabausumbarnews.com - Berita Lugas, Aktual dan Kritis Untuk Masyarakat Sumatera Barat