Right Button

test bannerSELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI "HARIAN BERITA MINANGKABAU SUMBAR NEWS"🇧🇪PEMBACA SETIA KAMI"HADIR UNTUK ANDA MASYARAKAT SUMBAR DENGAN BERITA TERBARU TERKINI PERISTIWA POLITIK EKONOMI SOSIAL ADAT BUDAYA MINANG SUMBAR DAN BERITA NASIONAL" KRITIS-OPTIMIS-TERDEPAN, PASANG IKLAN USAHA DAN UCAPAN SELAMAT " ANDA DISINI👉Alamat Kantor Redaksi JL.Kel.Seberang Palinggam No.10A Kecamatan Padang Selatan Kota Padang-Sumbar HUB:081267663887

Ketegangan AS-Iran Dipicu Kekhawatiran Selat Hormuz Teluk Persia

 


Internasional--Pemerintah Iran menyatakan akan "membela diri dan merespons dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya" jika Presiden AS Donald Trump menindaklanjuti ancamannya untuk menyerang negara tersebut jika Iran tidak menyetujui kesepakatan untuk membatasi program nuklirnya. Salah satu opsi pembalasan adalah dengan memblokir atau secara efektif menutup Selat Hormuz.


Selat sempit di muara Teluk Persia ini menangani sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia. Jadi, jika Iran mampu menolak akses kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak dan gas dari Timur Tengah ke China, Eropa, AS, dan konsumen energi utama lainnya, hal itu akan membuat harga minyak melonjak tajam dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.


Ketegangan antara AS dan Iran tetap tinggi meskin kedua pihak telah memulai kembali pembicaraan nuklir. AS telah memperkuat aset militernya di Timur Tengah, sementara Iran mengadakan latihan angkatan laut di Selat Hormuz. Meski Iran mengatakan telah menutup sebagian selat tersebut selama latihan militer pada pertengahan Februari, pasar minyak sebagian besar mengabaikan langkah terbatas dan sementara tersebut.


Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Iran di utara serta Uni Emirat Arab dan Oman di selatan.


Ini adalah jalur yang sangat penting bagi perdagangan minyak global. Sebagian besar pemasok di sekitar Teluk Persia tidak memiliki jalur laut lain untuk ekspor mereka.


Menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, kapal tanker mengangkut sekitar 16,7 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari melalui selat tersebut pada 2025. Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Iran semuanya mengekspor minyak melalui Selat Hormuz, dan sebagian besar kargo mereka ditujukan ke Asia.


Jalur ini juga krusial bagi pasar gas alam cair (LNG). Hampir seperlima pasokan LNG dunia—sebagian besar dari Qatar—melewati rute ini tahun lalu.


Selat Hormuz memiliki panjang hampir 161 km dan lebar 34 km  di titik ter sempitnya. Jalur pelayaran di setiap arah hanya selebar tiga km. Kedalaman air yang dangkal membuat kapal rentan terhadap ranjau, sementara kedekatan selat dengan daratan—khususnya Iran—membuat kapal rentan terhadap serangan rudal darat atau interupsi oleh kapal patroli dan helikopter.


Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, negara-negara dapat mengklaim kedaulatan hingga 14 mil dari garis pantai mereka—jarak yang lebih pendek daripada titik tersempit Selat Hormuz. Mereka harus mengizinkan "lalu lintas damai" kapal asing melalui perairan teritorial ini dan tidak boleh menghalangi "lalu lintas damai" atau "lalu lintas transit" melalui selat yang digunakan untuk navigasi internasional. Meski Iran menandatangani perjanjian ini pada 1982, perjanjian belum diratifikasi oleh parlemen negara tersebut.


Selama periode ketegangan geopolitik yang meningkat sebelumnya, Pemerintah Iran mengaku memiliki kemampuan untuk memberlakukan blokade laut. Namun, mereka belum pernah menindaklanjuti ancaman untuk sepenuhnya menutup akses ke selat tersebut—langkah yang kemungkinan besar akan dibalas keras oleh angkatan laut Barat yang berpatroli di wilayah tersebut, terutama AS.


Iran bisa menyebabkan gangguan serius tanpa satu pun kapal perang mereka meninggalkan pelabuhan. Iran memiliki sejumlah opsi berkat garis pantainya yang membentang di sepanjang perairan tersebut.


Opsi-opsi ini meliputi gangguan terhadap kapal-kapal dengan kapal patroli kecil dan cepat, hingga alternatif yang lebih ekstrem, seperti menyerang tanker dengan rudal dan drone, sehingga terlalu berbahaya bagi kapal komersial untuk melintasi selat. Iran juga dapat memasang ranjau laut, meski risiko yang ditimbulkan bagi kapal-kapal mereka sendiri mungkin membuat langkah tersebut kurang memungkinkan.


Kapal-kapal modern rentan terhadap gangguan sinyal sistem penentuan posisi global (GPS)—taktik yang semakin sering digunakan oleh aktor negara dan non-negara di seluruh dunia untuk mengganggu navigasi. Ribuan kapal mengalami gangguan di dan sekitar Selat Hormuz selama konflik Iran-Israel pada Juni lalu. (Ref)





Posting Komentar

0 Komentar

Kami Hadir Untuk Pembaca Mediaonline Minangkabausumbarnews.com - Berita Lugas, Aktual dan Kritis Untuk Masyarakat Sumatera Barat