Right Button

test bannerSELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI "HARIAN BERITA MINANGKABAU SUMBAR NEWS"🇧🇪PEMBACA SETIA KAMI"HADIR UNTUK ANDA MASYARAKAT SUMBAR DENGAN BERITA TERBARU TERKINI PERISTIWA POLITIK EKONOMI SOSIAL ADAT BUDAYA MINANG SUMBAR DAN BERITA NASIONAL" KRITIS-OPTIMIS-TERDEPAN, PASANG IKLAN USAHA DAN UCAPAN SELAMAT " ANDA DISINI👉Alamat Kantor Redaksi JL.Kel.Seberang Palinggam No.10A Kecamatan Padang Selatan Kota Padang-Sumbar HUB:081267663887

Rendahnya Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Rakyat Indonesia,Bukti Gagalnya Investasi Pada Bangsa

 

Rendahnya Kualitas SDM Indonesia,Bukti Gagalnya Investasi Pada Bangsa.(MKSN Sumbar)


(MKSN) Sumbar--Isu rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia pada tahun 2025 masih menjadi tantangan serius Kedepannya, bahkan di tengah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Berdasarkan data, IPM Indonesia tahun 2025 mencapai 75,90 (kategori tinggi), naik 0,88 poin dari tahun sebelumnya. Namun, peningkatan angka ini belum mencerminkan daya saing SDM yang merata.


Berikut  ini adalah dari analisis penyebab, dampak, dan kondisi terkait rendahnya SDM di Indonesia per 2025:

1. Faktor Penyebab "Pembodohan" atau Keterpurukan SDM


Istilah "pembodohan" dalam konteks ini merujuk pada kegagalan sistemik atau faktor struktural yang menghambat kecerdasan dan kemampuan SDM, antara lain:


Ketimpangan Akses Pendidikan: Akses ke pendidikan berkualitas belum merata, terutama antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Sebanyak 3,9 juta anak tercatat tidak mengenyam pendidikan pada 2025, dipicu oleh kendala ekonomi, pernikahan dini, hingga perundungan.


Kurikulum yang Cepat Berubah: Perubahan kurikulum yang terlalu cepat, seperti Kurikulum Merdeka, di satu sisi adaptif, namun di sisi lain menimbulkan masalah baru seperti menurunnya prestasi siswa karena kurangnya persiapan dan adaptasi.


Minimnya Kualitas Guru: Kondisi kesejahteraan guru honorer yang memprihatinkan (di bawah standar layak) dan beban kerja tinggi memicu demotivasi, yang berdampak pada rendahnya kualitas pengajaran.


Rendahnya Rata-rata Pendidikan Tinggi: Hanya sekitar 9,33% penduduk usia 25 tahun ke atas yang bergelar S1 atau lebih, menunjukkan rasio lulusan pendidikan tinggi masih lemah. 


2. Dampak Rendahnya SDM

Produktivitas Rendah: Kualitas SDM yang rendah berakibat langsung pada produktivitas pekerja dan tingkat partisipasi yang rendah di dunia kerja.


Daya Saing Lemah: Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan tenaga kerja minim penguasaan teknologi, sehingga produk Indonesia sulit bersaing di kancah global.


Beban Pembangunan: SDM yang tidak berkualitas membatasi kemampuan dalam menghasilkan kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan), menjadikannya beban pembangunan. 


3. Konteks 2025: Tantangan AI dan Kebutuhan Industri

Pada tahun 2025, tantangan SDM bergeser pada kesiapan teknologi. Kurikulum 2025 kini menekankan pada deep learning dan koding sebagai upaya mencetak generasi melek teknologi. Namun, terdapat tantangan krisis pendidikan global dan kebutuhan AI di dunia akademik yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh sistem pendidikan nasional. 


4. Tantangan Birokrasi

Tata kelola pendidikan di tahun 2025 masih menghadapi kekakuan birokrasi, kurangnya sosialisasi kebijakan, dan sinergi antarpemangku kepentingan yang lemah. 


Meskipun secara statistik (IPM) meningkat, realitas SDM Indonesia tahun 2025 masih menunjukkan kesenjangan besar yang disebabkan oleh ketidakmerataan pendidikan, kurangnya kualitas guru, dan lambatnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, yang sering disalahartikan sebagai "pembodohan" sistemik.


Catatan Redaksi MKSN Kamis (5/2/2026) Gagalnya Investasi Pada Bangsa Ke Empat faktor ini sangat mendukung SDM  Yang rendah semakin berdampak luas bagi pertumbuhan pada aspek ekonomi, sosial, pendidikan, maupun pembangunan nasional. SDM yang rendah berakibat pada rendahnya produktivitas tenaga kerja, yang pada akhirnya menghambat inovasi, efisiensi kerja, dan daya saing industri. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tidak optimal. Tingginya angka pengangguran dan pekerjaan tidak tetap membuat banyak masyarakat terjebak dalam pendapatan rendah tanpa jaminan sosial yang Tidak Pasti Dalam Perlindungan Kerja.


"Daya saing Indonesia di tingkat global menurun terutama dalam ruang lingkup teknologi dan inovasi. Untuk mengatasi permasalahan ini, berbagai pihak harus berperan aktif, terutama pemerintah. Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah memiliki kewenangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan melalui kebijakan yang lebih efektif, distribusi anggaran yang optimal, serta memajukan Perekonomian Yang Merata Adil Makmur dan Sejahtera Untuk Masyarakat Luas Terutama Anak Generasi Bangsa Baik ditingkat Pusat Maupun Di Daerah Kabupaten Kota dan Desa. (07)




Posting Komentar

0 Komentar

Kami Hadir Untuk Pembaca Mediaonline Minangkabausumbarnews.com - Berita Lugas, Aktual dan Kritis Untuk Masyarakat Sumatera Barat